Konsep Ekonomi dalam Bisnis: Fondasi Penting untuk UMKM Bertumbuh
Mediajawa.id - Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, pelaku UMKM tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas atau produk unik. Mereka juga perlu memahami konsep ekonomi dalam bisnis agar dapat mengambil keputusan yang tepat, efisien, dan berkelanjutan. Konsep-konsep ini menjadi fondasi dalam merencanakan strategi, mengelola sumber daya, dan memprediksi arah pasar.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sektor UMKM menyumbang 61,97%
terhadap PDB Indonesia pada 2024, serta menyerap lebih dari 97% tenaga
kerja nasional. Angka tersebut membuktikan betapa pentingnya peran pelaku
usaha kecil dan menengah dalam perekonomian. Namun, Kementerian Koperasi dan
UKM mengungkap bahwa 56,2% UMKM masih kesulitan mengakses pembiayaan,
dan sebagian besar belum memahami konsep ekonomi dasar secara mendalam.
1. Permintaan dan Penawaran
Permintaan (demand) dan penawaran (supply) adalah dua pilar utama dalam
ilmu ekonomi. Memahami keduanya membantu pelaku UMKM mengetahui kapan waktu
yang tepat untuk meningkatkan produksi atau menyesuaikan harga.
Misalnya, pada saat tren minuman boba sedang memuncak, permintaan
meningkat pesat. Pelaku usaha yang memahami hukum permintaan–penawaran dapat
mengatur stok bahan baku lebih banyak untuk menghindari kehabisan barang.
Sebaliknya, ketika tren mulai menurun, pengusaha dapat mengurangi stok agar
tidak mengalami kerugian.
Data dari BPS menunjukkan bahwa sektor kuliner di Indonesia mengalami
peningkatan penjualan sebesar 8,3% pada kuartal pertama 2024, terutama
karena tren musiman dan pengaruh media sosial.
2. Biaya Produksi dan Efisiensi
Mengelola biaya produksi adalah inti dari keberlangsungan bisnis. Pelaku
usaha perlu menghitung biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable
cost) agar harga jual tetap kompetitif namun tetap menghasilkan keuntungan.
Contoh nyata adalah usaha roti rumahan yang menggunakan peralatan hemat
energi. Dengan menekan biaya listrik hingga 20%, margin keuntungan bisa
meningkat tanpa menaikkan harga jual.
Menurut OJK, UMKM yang mampu mengendalikan biaya produksi secara
konsisten memiliki potensi bertahan hingga 70% lebih lama dibanding
usaha yang tidak melakukan analisis biaya secara rutin.
3. Skala Ekonomi
Skala ekonomi (economies of scale) mengacu pada efisiensi biaya yang
dicapai ketika produksi meningkat. Semakin besar volume produksi, biasanya
biaya per unit akan menurun.
Contoh: pabrik konveksi yang memproduksi 1.000 kaos per bulan akan
mendapatkan harga kain lebih murah dibanding yang hanya memproduksi 100 kaos,
karena pembelian bahan baku dalam jumlah besar.
Kemenperin mencatat, pelaku industri kecil yang menerapkan prinsip skala ekonomi
dapat menekan biaya produksi hingga 15% dalam satu tahun.
4. Elastisitas Harga
Elastisitas harga mengukur sejauh mana perubahan harga memengaruhi jumlah
permintaan. Produk dengan elastisitas tinggi (misalnya minuman kekinian) akan
cepat kehilangan pelanggan jika harga naik. Sebaliknya, barang dengan
elastisitas rendah (seperti kebutuhan pokok) tidak terlalu terpengaruh oleh
perubahan harga.
Pelaku UMKM dapat menggunakan konsep ini untuk strategi diskon atau
promosi. Contohnya, menurunkan harga sedikit saja pada produk dengan
elastisitas tinggi bisa meningkatkan penjualan secara signifikan.
Riset NielsenIQ Indonesia 2024 menunjukkan, 73% konsumen kelas
menengah lebih sensitif terhadap harga pada produk gaya hidup dibanding
kebutuhan sehari-hari.
5. Diversifikasi Produk
Diversifikasi berarti menambah variasi produk atau layanan untuk
mengurangi risiko kerugian. Jika satu produk tidak laku, produk lain bisa
menutup kerugian tersebut.
Contohnya, sebuah kedai kopi menambah menu roti bakar atau pastry untuk
menjangkau pelanggan yang datang bukan hanya untuk minum kopi. Strategi ini
terbukti mampu meningkatkan omzet hingga 25% dalam enam bulan, menurut laporan Asosiasi
Kopi Indonesia.
6. Analisis Pasar dan Perilaku Konsumen
Memahami perilaku konsumen berarti memahami apa yang mendorong mereka
membeli produk tertentu. Faktor-faktor seperti tren, harga, kualitas, dan
layanan purna jual berperan besar.
Pelaku UMKM bisa memanfaatkan media sosial untuk melakukan survei cepat
atau mengamati komentar pelanggan. Data We Are Social 2025 menunjukkan
bahwa 77% konsumen Indonesia mencari informasi produk di media sosial
sebelum membeli.
7. Inovasi dan Adaptasi Teknologi
Perubahan teknologi memengaruhi cara bisnis berjalan. Pelaku UMKM yang
mengadopsi sistem pembayaran digital, e-commerce, atau media sosial marketing
biasanya memiliki jangkauan pasar lebih luas.
Contohnya, warung makan yang menggunakan aplikasi pesan antar dapat
menjangkau pelanggan yang tidak pernah datang secara langsung ke lokasi.
Menurut laporan Bank Indonesia, transaksi e-commerce di Indonesia
mencapai Rp689 triliun pada 2024, naik 20% dibanding tahun sebelumnya.
8. Perencanaan Keuangan dan Investasi
Mengatur keuangan bukan hanya soal menghitung keuntungan, tapi juga
menyiapkan dana untuk ekspansi atau menghadapi krisis. Pelaku UMKM disarankan
menyisihkan minimal 10–20% keuntungan untuk modal cadangan atau investasi.
Menurut OJK, UMKM yang memiliki dana darurat minimal setara tiga
bulan biaya operasional mampu bertahan 1,5 kali lebih lama saat menghadapi
penurunan penjualan.
9. Etika Bisnis dan Keberlanjutan
Konsep ekonomi dalam bisnis tidak hanya fokus pada keuntungan, tetapi
juga pada keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Menjalankan usaha dengan
memerhatikan lingkungan, memberikan upah layak, dan berkontribusi pada
komunitas dapat meningkatkan citra merek.
Studi NielsenIQ 2024 menemukan bahwa 64% konsumen di Indonesia
bersedia membayar lebih untuk produk dari brand yang menjalankan bisnis
berkelanjutan.
10. Implementasi Konsep Ekonomi dalam Bisnis untuk UMKM
Menguasai teori saja tidak cukup — pelaku UMKM perlu mempraktikkan
konsep-konsep ekonomi dalam bisnis ke dalam strategi harian. Mulai dari
mencatat biaya, mengatur stok, memantau tren pasar, hingga menjalin kerja sama
dengan pemasok.
Dengan pemahaman ini, UMKM tidak hanya dapat bersaing di pasar lokal, tetapi juga berpotensi menembus pasar nasional bahkan internasional.